Todays Highlights
  • Petani Indonesia Mengatasi Flu Burung More
  • Kuis Trivia tentang Indonesia untuk Duta Besar Amerika Serikat More
  • Ibu dan Bayi Sehat More
  • Membangun Kembali Infrastruktur Pendidikan Di Aceh More
Transkrip Podcast Palang Merah Amerika

TH: Halo dan selamat datang kepada para pendengar! Nama saya Terry Harvey, Wakil Presiden Program Kebudayaan di Meridian International Center, organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, D.C. Bersama saya ada Sydney Morton dari American Red Cross dan Arifin Muhammad Hadi dari Palang Merah Indonesia untuk membahas tentang pengalaman bekerja untuk Palang Merah setelah bencana alam pada musim gugur 2018 di Indonesia. Podcast ini akan memberikan gambaran tentang kemitraan antara kedua organisasi ini dan hasil luar biasa yang mereka capai di Indonesia. Jadi, mari kita mulai. Pertama, terima kasih, Sydney dan Arifin, bisa bergabung dengan saya hari ini. Mari kita mulai dengan Sydney. Bisakah Anda ceritakan bagaimana Anda pertama bergabung dengan American Red Cross? 

SM: Tentu. Terima kasih banyak telah menyambut kami. Saya bergabung dengan American Red Cross tiga tahun lalu. Saya bergabung dengan kantor pusat di Washington, D.C. sebagai bagian dari departemen layanan internasional. Sejak itu, saya telah bekerja dengan sukarelawan komunitas Red Cross and Red Crescent di seluruh dunia, dan baru-baru ini saya berkecimpung dalam hubungan eksternal dengan media dan beragam mitra dari seluruh dunia, dan itu lah yang membawa saya ke Indonesia, yang akan kita bicarakan hari ini.

TH: Hebat. Dan Arifin, bisakah Anda menjelaskan sedikit bagaimana Anda bergabung dengan Palang Merah Indonesia?

AH (1: 45-2: 19): Ya, saya bergabung dengan Palang Merah Indonesia sejak 2001. Posisi pertama saya adalah manajer untuk komite kesiapsiagaan bencana, bekerja sama dengan Danish Red Cross untuk mendukung PMI. Sekarang saya adalah kepala divisi manajemen bencana di kantor pusat PMI. Peran saya adalah memimpin dan mengelola manajemen penanganan bencana dan untuk membangun kemitraan dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain.

TH: Luar biasa. Sydney, bisakah Anda menjelaskan sedikit tentang peran Anda sekarang di American Red Cross?

SM: Tentu. Kami sebenarnya punya 191 jaringan komunitas Red Cross and Red Crescent lainnya di hampir setiap negara di dunia, serta IFRC dan ICRC. Saat ini, saya lebih fokus secara domestik di Amerika Serikat dan bekerja dengan berbagai mitra korporat dan donor untuk melibatkan mereka dalam misi kami di AS.

TH: Hebat. Untuk pembahasan lebih mendalam, mungkin Anda masing-masing dapat menggambarkan apa yang terjadi di Indonesia pada musim gugur 2018?

SM: Tentu. Kami dapat bercerita tentang bencana musim gugur tahun ini. Saya akan mulai dengan serangkaian bencana yang terjadi di Indonesia beberapa bulan yang lalu, dimulai dengan sejumlah gempa bumi di pulau Lombok. Pada 29 Juli, terjadi gempa bumi dahsyat pada tengah malam, berskala 6,4. Malam itu, banyak orang di pulau Lombok yang kehilangan nyawa. Hanya beberapa hari kemudian, awal Agustus, tanggal lima, terjadi satu lagi gempa bumi yang benar-benar merusak, berskala 7,0. Tragisnya, ini tidak berhenti di situ. Pada 9 Agustus, gempa berkekuatan 5,9 melanda Lombok. Sepuluh hari kemudian, dua lagi datang, yang masing-masing besarnya lebih dari 6,5. Jadi, hanya dalam hitungan beberapa minggu, pulau Lombok terkena dampak serangkaian gempa bumi yang benar-benar menghancurkan dan melanda ribuan orang di seluruh pulau.

Saya tiba di Indonesia pada Agustus, dan tiga dari empat bangunan di pulau itu rusak parah atau bahkan hancur. Bahkan pada saat itu tanah belum berhenti bergetar. Ada lebih dari 2.000 gempa susulan pada musim gugur. Jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk membayangkan dampak 2.000 getaran dahsyat yang terjadi setiap hari dan minggu, serta dampaknya terhadap sekolah, kesehatan, pikiran—itulah yang terjadi di Lombok.

Dari sana, seperti yang Anda ketahui, pada akhir September, pada 28 September, Indonesia terkena serangkaian bencana lain di Sulawesi, yang berjarak ribuan mil dari Lombok, tapi, benar-benar menghancurkan. Mereka mengalami gempa bumi, diikuti tsunami, kemudian serangkaian tanah longsor dan pencairan tanah yang secara harfiah menelan desa-desa di pulau Sulawesi. Di sana, 175.000 orang mengungsi dan lebih dari 4.000 orang tewas. Jadi, di Lombok dan Sulawesi, lebih dari 640.000 orang terkena dampaknya.

Jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk membayangkan 500.000 orang, anak-anak, orang tua, dan keluarga, masih tinggal di penampungan sementara di Lombok. Skalanya besar sekali. Terjadi juga, pada Desember, tsunami lain yang melanda Indonesia di Selat Sunda, dikenal sebagai tsunami Krakatau, dan itu datang pada tengah malam. Ada banyak liputan media mengenai peristiwa ini, dan itu memengaruhi ratusan orang. Hampir 200 orang tewas dalam tsunami itu.

TH: Serangkaian peristiwa tersebut cukup tragis. Arifin, dapatkah Anda bercerita tentang pekerjaan besar yang telah dilakukan oleh Palang Merah? Pertanyaan saya adalah: Dari mana kita memulai upaya bantuan bencana yang begitu besar?

AH (7: 05-9: 27): Pada saat itu, peran saya adalah sebagai kepala operasi untuk memimpin dan mengoordinasi mobilisasi sumber daya PMI di daerah yang terkena dampak, serta memobilisasi dukungan dari PMI tingkat provinsi dan kabupaten di pulau yang sama untuk menyediakan bantuan, tim penyelamat, tim medis, tim sanitasi, dan menyediakan kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan. Tentu saja itu tidak mudah bagi kami, karena dalam pelayanan bencana, tingkat nasional memiliki keterbatasan. Itu sebabnya kami berkomunikasi dengan semua PMI tingkat provinsi untuk mendukung daerah yang terkena dampak, karena ada bencana besar di Lombok dan yang kedua di Palu dan juga yang ketiga di Selat Sunda.

Jadi, itu sebabnya kami harus memobilisasi semua sumber daya. Dari Jakarta kami memobilisasi barang-barang bantuan kami, dari gudang-gudang kami di Jakarta, Surabaya, Serang, juga Sulawesi, dan Kalimantan. Ini lah cara kami mengumpulkan dukungan untuk daerah yang terkena dampak bencana. Sekarang, PMI menerapkan lokalisasi dan sentralisasi wewenang untuk memberikan lebih banyak peran dan tanggung jawab kepada daerah yang terkena dampak untuk memimpin operasi.

Dari tingkat nasional, kami memberikan dukungan teknis, logistik, dan pendanaan. Koordinasi kami dengan IFRC dan ICRC, kami mengajukan permohonan, dan sekarang ada satu permohonan yang mencakup tiga operasi kami: gempa bumi Lombok, gempa bumi Sulawesi yang terkena dampak tsunami, dan yang terakhir di Sunda Selat karena tsunami.

TH: Jadi, Sydney, setelah mendengar itu, saya ingin tahu, seberapa cepat Anda tiba? Apa peran Anda di sana, dan apa saja yang Anda lakukan dalam beberapa minggu pertama?

SM: Saya tiba di pulau Lombok pada pertengahan Agustus, tepat saat rangkaian gempa ini melanda masyarakat setempat dan saat gempa susulan sedang berlangsung. Peran saya adalah menjadi kepanjangan tangan Palang Merah Indonesia, atau yang kadang disebut PMI. Ada sejarah panjang kemitraan antara American Red Cross dan PMI, dan ikut ambil bagian dalam warisan tersebut merupakan pengalaman yang bermakna. Saya di sana untuk bekerja sama dengan tim hubungan eksternal PMI dan bertindak sebagai sumber dan dukungan tambahan bagi tim PMI yang sudah ada.

Saya bergabung dengan tim sukarelawan PMI untuk bekerja di pulau dengan mitra eksternal ketika media bertanya tentang keadaan para penduduk, siapa saja yang terkena dampak gempa bumi dan gempa susulan, dan apa saja bantuan Palang Merah. Pekerjaan saya adalah membantu menceritakan kisah itu. Kisah-kisah yang saya ceritakan, bersama kolega dan sukarelawan PMI saya, adalah bahwa komunitas di sana kuat, tangguh, dan penuh harapan, meskipun semua yang terjadi di sekitar mereka dengan berbagai bencana.

TH: Ya, dan berbicara lebih lanjut tentang kemitraan penting antara American Red Cross dan PMI ini, Arifin, dapatkah Anda bercerita tentang kemitraan ini dan apa saja pencapainnya setelah beberapa tahun terakhir?

AH (11: 42-13: 34): Ya, sebagai rekan Red Cross and Red Crescent, PMI sebagai komunitas internasional dan American Red Cross sebagai komunitas nasional, memiliki hubungan yang sangat dekat. Hubungan kami didasarkan pada rasa saling mengerti sebagai keluarga Red Cross and Red Crescent, dalam semangat kemitraan, saling mendukung, bekerja bersama, saling percaya, dan saling menghormati. American Red Cross mendukung PMI sejalan dengan prioritas dan tujuan PMI yang kami uraikan dalam rencana pengembangan strategis PMI. Dengan semangat gerakan Red Cross and Red Crescent, PMI dan American Red Cross telah sepakat untuk bekerja sama dalam mengimplementasikan program dan layanan. Kami mengakui dan sepakat untuk menjalin koordinasi dan komunikasi terbaik untuk memastikan bahwa dukungan program kami saat ini dapat diimplementasikan secara efektif, koheren, dan memberikan solusi yang berkelanjutan.

Saya rasa American Red Cross dan USAID adalah mitra strategis kami yang sangat penting. PMI telah bekerja sama dengan American Red Cross bahkan sebelum tsunami Aceh pada 2004. PMI sering bekerja sama dengan American Red Cross. Dukungan American Red Cross tidak hanya berfokus pada tindakan untuk menangani dampak bencana, tetapi juga mencakup program pengembangan kapasitas organisasi PMI dan program pengembangan kapasitas masyarakat.

SM: Arifin, saya senang Anda menyebutkan bahwa Anda melihat kemitraan kita sebagai bagian dari keluarga Red Cross and Red Crescent yang lebih luas. Saya merasakan hal yang sama. Sebagai bagian dari jaringan global, kedua Palang Merah kami benar-benar memiliki ikatan khusus, seperti yang disebutkan Pak Arifin.

Dan saya akan menambahkan bahwa, luar biasa sekali jika kita mengingat bahwa American Red Cross dan PMI sudah berkolaborasi dan bekerja sama, bahkan di Lombok, sebelum gempa bumi baru-baru ini. Pada 2015 hingga 2017, kami mengadakan latihan persiapan dan keamanan gempa di sekolah-sekolah setempat. Dampak latihan tersebut terhadap keselamatan nyawa saat gempa bumi terjadi di Lombok, sangat luara biasa.

Kami telah melakukan beberapa aktivitas yang sangat inovatif, seperti menanam bakau bersama di daerah pesisir, yang akan menghasilkan penelitian yang dapat berguna bagi negara-negara lain untuk membantu melindungi wilayah pesisir mereka saat terjadi bencana.

Dan, saya ingin menambahkan bahwa American Red Cross belajar banyak dari kemitraan ini. Saya tahu PMI merasakan hal yang sama. Sungguh, hasil dari kolaborasi kami dapat dirasakan di seluruh Amerika Serikat, dari semua yang kami pelajari dari bagaimana PMI melibatkan sukarelawan dan mobilisasi di tingkat yang sangat lokal dan membangun kapasitas anggota masyarakat setempat. Ini adalah sesuatu yang kami pelajari dan bawa kembali ke program domestik kami di AS.

TH: Bagus sekali Anda menyebutkan upaya kesiapsiagaan bencana. Saya ingin tahu, Arifin, apakah Anda bisa berbicara sedikit tentang itu. Bagaimana tanggapan masyarakat? Seperti apa partisipasi mereka terkait simulasi bencana, mengajarkan kesiapsiagaan gempa, memberikan instruksi pertolongan pertama? Mungkin Anda bisa mengatakan beberapa patah kata tentang itu.

AH (15: 40-17: 38): Saya pikir, sebagai organisasi kemanusiaan berbasis sukarela terbesar di Indonesia, PMI memiliki peran penting bagi pemerintah. Dalam hal ini, peran PMI adalah mendukung negara dan pemerintah dalam aksi kemanusiaan. PMI memiliki dua strategi. Pertama adalah bagaimana meningkatkan pengembangan kapasitas organisasi PMI. Pengembangan kapasitas sukarelawan, staf, dan anggota PMI. Dan yang kedua adalah bagaimana memberdayakan masyarakat untuk dapat menganalisis risiko mereka, untuk mengatasi bencana saat datang, dan untuk meminimalkan risiko bencana, dan untuk memulai segala jenis upaya yang dapat mengurangi risiko bencana dan dampak perubahan iklim.

Terkait upaya kesiapsiagaan bencana alam di Indonesia, PMI membaginya ke dalam dua situasi. Pertama adalah situasi ketika tidak ada bencana atau prabencana. PMI akan memberikan bantuan khusus kepada masyarakat untuk memberikan informasi dan analisis perencanaan dan pemetaan risiko bencana, juga pelatihan, pendidikan, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi terhadap perubahan iklim, serta membantu keluarga-keluarga agar siap menghadapi bencana, dan untuk memastikan bahwa semua anggota masyarakat memiliki kesiapan pribadi untuk mengatasi dampak bencana.

TH: Saya ingin tahu apakah kita bisa berbicara sedikit tentang kenyataan di lapangan selama upaya bantuan seperti itu. Sydney, mungkin Anda bisa bercerita tentang suasana selama upaya ini. Apa menurut Anda tantangan terbesar saat bekerja di Indonesia?

SM: Tentu. Menurut saya, atmosfernya menjadi lebih menantang setelah gempa susulan dan serangkaian bencana yang berlanjut selama respons berlangsung. Ketika sukarelawan setempat mengerahkan dan mulai mendistribusikan material tempat tinggal dan air bersih, mengadakan pelatihan di sekolah-sekolah sehingga anak-anak paham cara mengungsi dan pindah ke tempat yang aman jika terjadi gempa susulan, gempa susulan itu tidak berhenti. Respons berlangsung di tengah-tengah getaran mengerikan yang terus berlanjut.

Di sekitar pulau, Anda bisa merasakan kekhawatiran akan berapa lama gempa susulan dan gempa bumi akan berlanjut. Ada banyak kekhawatiran yang dirasakan keluarga yang memiliki rumah di dekat laut, mengingat ancaman tsunami. Maka, keluarga pindah ke tempat yang lebih tinggi. Tentu saja, gempa susulan mengganggu bisnis dan sekolah dan kehidupan sehari-hari. Tetapi, lebih dari itu, itu berbahaya bagi ketenangan pikiran dan kesejahteraan emosional anggota masyarakat. Oleh karena itu, sukarelawan PMI benar-benar menekankan dan berfokus pada dukungan psikososial, perawatan emosional, dan layanan dukungan kesehatan mental. Bagi saya, sungguh luar biasa melihat pekerjaan itu dilakukan karena konteksnya kadang-kadang tidak pasti dan menakutkan. Saya tidak akan pernah lupa, kami pergi ke kota bernama Dangiang di Lombok Utara, yang merupakan pusat kehancuran. Di desa Dangiang, tidak ada satu pun rumah yang selamat dari gempa bumi. Tidak satu pun. Jika Anda membayangkan pergi ke lokasi mana pun tempat Anda tinggal, entah itu gedung apartemen, jalan buntu, atau kota, mencoba memahami kenyataan bahwa tidak ada rumah yang tersisa untuk tetangga Anda, sangat tidak dapat dipercaya dan luar biasa.

Saya bertemu keluarga di sana, ada seorang ayah bernama Assar, dan dia bercerita tentang dampaknya. Namun, PMI berperan dalam membantu keluarganya memiliki harapan lagi. Material tempat tinggal yang mereka distribusikan, air bersih yang mereka pasok, yang tidak dapat diakses lewat cara lain, persediaan medis dan klinik medis yang didirikan, semuanya sangat berarti dan sangat diperlukan.

Namun, yang saya lihat PMI berikan adalah sesuatu yang lebih berharga daripada apa pun, yaitu harapan baru dan sedikit ketenangan pikiran, yang dalam konteks ini kadang-kadang sangat menantang.

TH: Arifin, saya ingin tahu apakah Anda dapat menambahkannya dan mungkin memberikan contoh atau cerita yang menggambarkan karakter orang Indonesia.

AH (22: 06-25: 40): Pertama, sebelum saya menjawabnya, saya ingin menceritakan tantangan yang selalu kami hadapi di PMI dan dalam setiap respons bencana. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, serangkaian bencana di Lombok, Sulawesi, dan Selat Sunda, ada tantangan logistik dan transportasi. Kenapa? Itu karena kompleksitas wilayah geografis Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan membutuhkan sumber daya logistik dan transportasi yang memadai.

Terus terang, biaya logistik dan transportasi untuk tindakan tanggap bencana, terutama di bagian timur Indonesia, sangat tinggi. Jadi, selain mengangkut barang-barang bantuan kami dari gudang regional kami di Jakarta, Surabaya, Kalimantan, dan kemudian Sumatra membutuhkan biaya. Terkadang, kami dihadapkan tantangan keterbatasan modalitas transportasi kami. Tantangan kedua adalah menangani pembangunan kapasitas dan sumber daya PMI. Ya, kami menyadari bahwa PMI memiliki dua juta sukarelawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Lombok, misalnya, bukan provinsi yang kuat. Sulawesi juga bukan provinsi yang kuat. Tapi, kita harus ingat bahwa mereka yang harus memimpin operasi. Itu sebabnya negara akan menyediakan kapasitas yang memadai. Langkah demi langkah kami akan menyediakan pengembangan kapasitas dalam pelatihan kerja, pembelajaran sebaya, serta tanggung jawab, kepemimpinan, dan segalanya untuk memastikan mereka cukup kuat untuk memimpin operasi berikutnya.

Saya rasa saat ini situasi di Sulawesi dan Lombok masih dalam masa pemulihan. Orang-orang yang terkena dampak masih menaruh harapan yang sangat tinggi pada PMI. Ini karena banyak organisasi kemanusiaan telah mengakhiri misi mereka. Kebutuhan hunian masih sangat tinggi. Awalnya, dikabarkan oleh IFRC bahwa PMI akan membangun tempat penampungan sementara di luar kamp. Namun, karena perubahan kebijakan dari pemerintah, kami tidak akan melanjutkan pembangunan, tetapi kami akan mendukung tambahan perumahan sementara dan rumah permanen. Masih banyak pengungsi yang sekarang tinggal di kamp, ​​khususnya di kota Palu, Dongala, dan Sigi. Ini berbeda dengan Lombok. Di Lombok, mereka tinggal di tanah mereka sendiri. Mereka tinggal di daerah mereka sendiri. Tetapi karena pencairan dan tsunami di Palu, Dongala, dan Sigi, para pengungsi sekarang masih tinggal di tenda-tenda pengungsi. Pemerintah menyediakan barak, sehingga pengungsi akan tinggal di barak maksimal dua tahun. Saat ini, pemerintah juga telah mulai membangun rumah-rumah permanen, terutama bagi para pengungsi yang masih tinggal di kamp.

SM: Arifin, saya senang mendengar pernyataan Anda tentang upaya sukarelawan di Lombok dan Sulawesi, dan saya ingin menambahkan bahwa saya benar-benar terkesan dengan upaya sukarelawan lokal. Sungguh luar biasa membayangkan bahwa dari banyak sukarelawan yang saya temui – dan ada ratusan sukarelawan yang dimobilisasi selama respons Lombok. Saya rasa ada sekitar 700 sukarelawan aktif yang membantu komunitas yang terkena dampak bencana – mereka adalah anggota masyarakat. Dan sungguh luar biasa bahwa selama masa yang sangat sulit ini, mereka datang untuk membantu tetangga mereka. Banyak sukarelawan lokal di Lombok yang mengalami kerusakan atau kehancuran rumah mereka sendiri. Sumber pendapatan mereka terganggu. Namun, mereka menjadi sukarelawan untuk pertama kalinya dengan PMI atau mereka memutuskan untuk mengenakan seragam mereka dan, alih-alih mengerjakan rumah mereka sendiri atau hanya berfokus pada situasi mereka sendiri, mereka memutuskan untuk mengulurkan tangan. Dan itu, benar-benar esensi dan semangat sukarelawan PMI. Dan saya pikir, ini adalah keindahan respons lokal. Mereka tahu persis cara berinteraksi dengan anggota masyarakat dan menjadi sumber dukungan karena mereka adalah bagian dari komunitas. Keluarga mereka juga yang terkena dampak bencana ini.

Ada juga ratusan sukarelawan yang datang dari tempat lain di Indonesia untuk mendukung. Jadi, orang-orang dari berbagai pulau sekitar datang ke Lombok dan semangat membantu tetangga mereka. Menurut saya respons yang dimotori masyarakat setempat adalah bagian yang indah dari apa yang berlangsung di Lombok. Saya rasa ini merupakan cerminan sejati masyarakat Indonesia.

TH: Sebagai akhir dari sesi ini, Arifin, dapatkah Anda menambahkannya, mungkin tentang ketahanan masyarakat Indonesia?

AH (28: 00-30: 50): Jadi, mau tidak mau, orang Indonesia harus siap karena ada begitu banyak bencana di negara kami. Daerah kami sangat kompleks, terutama bagian timur. Jadi, seperti yang disebutkan Sydney, kami menerapkan lokalisasi dan desentralisasi. Dengan dukungan American Red Cross, setelah operasi tsunami, kami menjalankan program yang didukung American Red Cross dan USAID pada saat itu untuk memulai apa yang kami sebut Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas di Aceh, setelah operasi tsunami. Sejak operasi gempa dan tsunami Aceh, American Red Cross mendirikan kantor perwakilan di Jakarta, dan hingga kini masih aktif mendukung pengembangan masyarakat yang tangguh. Setelah tsunami, PMI mendapat banyak pengetahuan tentang cara membangun komunitas yang lebih tangguh di lapangan, karena ini sangat menantang, misalnya, saat ini kami masih menjalankan operasi di Papua, daerah yang sangat terpencil, dan daerah lain seperti Wamena dan Lanny Jaya. Ada juga kekhawatiran kami tentang bagaimana membuat komunitas lebih tangguh.

Itu lah mengapa, mulai sekarang, belajar dari serangkaian bencana yang terjadi di negara kita, bahwa kita benar-benar perlu memberikan lebih banyak pengembangan kapasitas untuk memulai program pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di tingkat masyarakat. Seperti yang disebutkan Sydney, misalnya, American Red Cross membantu PMI menanam lebih dari satu juta pohon bakau di Aceh, pulau Jawa, dan pulau Lombok.

Dan sekarang, masyarakat masih mempertahankan upaya mereka untuk memulai solusi yang lebih berkelanjutan. Mereka dapat berkolaborasi dalam berbagai kegiatan. Keluarga mereka juga senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana, dan masing-masing komunitas mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak bencana. Saya rasa, ketahanan adalah kunci bagi PMI setelah kita belajar dari serangkaian bencana di negara kami.

SM: Berbicara tentang ketahanan, saya teringat seseorang yang saya temui ketika saya berada di Lombok selama respons bencana, namanya Fasua. Dia adalah pengusaha lokal yang menurut saya benar-benar mencerminkan esensi ketahanan di seluruh pulau dan seluruh Indonesia. Etalase Fasua awalnya rusak akibat gempa bumi, kemudian benar-benar hancur saat gempa bumi dan gempa susulan berlanjut. Dia adalah seorang wirausaha perempuan dan memiliki toko kecil tempat ia menjual beragam kue dan permen. Tokonya esensial bagi komunitasnya, dan bisnisnya sukses. Jadi, ketika etalase tokonya hancur, saya hanya bisa membayangkan betapa dahsyat pengaruhnya terhadap semangat dan harapannya, dan tentunya terhadap sumber pendapatan keluarga dan mata pencaharian mereka, yang didukung oleh toko yang tidak lagi ada.

Dan ketika saya bertemu Fasua, dia memutuskan untuk memulai kembali usahanya, bahkan di tengah-tengah gempa susulan yang berkelanjutan. Dia menemukan sebuah meja dan memutuskan untuk memasak di luar tempat penampungan, karena rumahnya terkena dampak gempa bumi, dan dia memutuskan untuk memulai bisnisnya kembali. Ketika saya bertemu dengannya, Anda bisa merasakan kekuatan dan tekad di dalam dirinya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, apa pun yang terjadi. Saya merasakan ketahanan itu dari banyak anggota masyarakat lain yang menghadapi situasi yang sama memilukannya. Namun, setiap pagi, mereka memutuskan untuk terus membangun kembali, untuk terus bergerak maju, dan melakukan apa yang mereka bisa untuk membuka jalan ke depan. Itu contoh pengalaman terkait ketahanan yang saya alami langsung dengan masyarakat di Lombok.

TH: Terima kasih telah berbagi pengalaman itu. Sebagai penutup, kami berharap ini memberikan kesempatan bagi para pendengar kami untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam atas pencapaian besar upaya yang dipimpin oleh American Red Cross dan PMI. Ini adalah bukti hubungan penting antara Amerika Serikat dan Indonesia. Dan ketika bencana alam tragis terjadi, kita merasa lebih tenang karena kita tahu bahwa kedua organisasi ini bekerja dengan gigih untuk membantu melestarikan bangsa Indonesia yang besar. Jadi, terima kasih banyak. Terima kasih kepada kedua pembicara telah bergabung dengan kita hari ini. Kami mengundang siapa saja dan semua orang untuk melakukan apa yang mereka bisa dan untuk menjadi sukarelawan Red Cross.